Saturday Apr 19

Politik Uang Sama dengan Riswah

Written by administrator

Ironis, bila hajatan lima tahunan untuk memilih para wakil rakyat dan pemimpin negeri ini diciderai dengan iming-iming gelimangan rupiah alias money politics. Islam dengan tegas mengharamkan politik uang. Karena itu status yang menyogok dan yang disogok sama-sama berdosa.

Melihat banyaknya kasus korupsi di negeri ini, peluang untuk melakukan riswah dalam memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri ini masih besar. Terbukti dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga Survei Indikator Politik Indonesia tentang seberapa besar tingkat penerimaan pemilih di daerah dan nasional terhadap politik uang menjelang Pemilu 2014 ini.

Dari hasil survei disebutkan bahwa sebanyak 41,5 persen responden di 39 daerah pemilihan menganggap politik uang adalah sesuatu yang wajar. “Ini berbahaya dan sudah di level warning,” kata Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi, dalam konferensi persnya.

Selanjutnya, dari 41,5 persen responden yang menganggap politik uang wajar, mereka ditanya lagi soal kecenderungan terhadap hadiah atau uang yang diberikan. Hasilnya, 55,7 persen memilih untuk mengambil uang, tetapi tidak memilih si calon yang memberikan uang itu. “Ini ibarat penipu kecil yang ingin menipu perampok besar,” ujar Burhanuddin.

Baca lanjut

Jangan Asal Pilih Caleg!

Written by administrator

Sebagaimana pemilihan umum (Pemilu) sebelumnya, kasak kusuk siapa wakil rakyat dan pemimpin bangsa yang akan menjadi pilihan bangsa ini menyeruak. Berbagai macam opini, ulasan, informasi seputar calon yang menjadi andalannya menjamur di mana-mana. Bila masyarakat menerima opini, ulasan dan informasi yang salah maka akan berdampak pada kemajuan negeri ini.

Sebagai bangsa yang besar, dengan jumlah penduduknya mayoritas Muslim, sudah seharusnya umat Islam sadar dan ikut aktif dalam gawe lima tahunan ini. Sebab jika tidak, aktif maka akan bisa berdampak pada umat Islam sendiri ke depannya, terkait dengan kebijakan yang bisa merugikan umat Islam di Indonesia.

Untuk itulah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan tausiyah atau seruan tentang kewajiban memilih pemimpin yang memenuhi syarat-syarat ideal dalam Islam. KH Kholil Ridwan dalam seruannya mengatakan bahwa syarat-syarat itu untuk terwujudnya kemaslahatan di tengah-tengah masyarakat.

“MUI memandang Pemilu yang akan diselenggarakan merupakan momentum strategis untuk melakukan perubahan dalam kehidupan berbangsa,” katanya dalam jumpa pers beberapa waktu lalu.

Karena itulah, MUI menyerukan kepada pemilih untuk menggunakan hak pilihnya sesuai kemantapan hati, dengan memilih calon legislatif yang beriman, bertakwa, jujur (shiddiq), tepercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathanah)  serta mau memperjuangkan kepentingan umat Islam dan bangsa.

Baca lanjut

Profil Calon Anggota Legislatif

Written by administrator

Di era demokrasi ini, suara rakyat adalah komponen yang sangat penting. Sampai ada yang mengatakan, suara rakyat adalah suara Tuhan. Mengapa? Ya, karena, suara rakyat itulah yang menentukan jadi tidaknya seorang wakil rakyat duduk di Dewan Perwakilan Rakyat. Semakin banyak suara yang ia terima, semakin besar peluangnya menjadi wakil rakyat yang kekuasaannya sangat besar menentukan ini-itu kehidupan berbangsa-bernegara. 

Namun ironisnya, masih banyak rakyat yang belum mengetahui suara mereka kelak diwakili oleh siapa di parlemen. Selain itu, masalah politik uang (money politic) dan kampanye kotor (black campaign) seperti menjadi menu wajib dalam Pemilu.

Untuk itu, Majalah Gontor merasa terdorong untuk setidaknya memberikan gambaran tentang beberapa nama tokoh yang bisa dijadikan rujukan untuk mencari calon anggota legislatif (Caleg)  yang memiliki komitmen tinggi terhadap umat, bangsa, dan negara. Berikut beberapa nama caleg yang dalam kampanyenya berkomitmen terhadap umat dan bangsa.

 

Baca lanjut

Haram Memilih Pemimpin Non-Muslim

Written by administrator

cDr Daud Rasyid Lc MA

Pemilu 2014 kali ini bakal diwarnai dengan persaingan yang cukup ketat. Untuk meraup suara sebanyak-banyaknya, sejumlah calon dari politisi, akademisi, ustadz dan artis dipasang. Janji-janji program pro rakyat mulai bermunculan di spanduk, baliho, dan iklan di media nasional.

Setidaknya, kepemimpinan sebelumnya menjadi cermin untuk menentukan pilihan tahun ini. Rakyat jangan tertipu janji-janji kampanye caleg dan capres yang justru tersangkut kasus korupsi. Di tengah kondisi seperti ini masihkah ada calon pemimpin yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat?

Menyikapi hal ini, Daud Rasyid menegaskan, masyarakat jangan mau digiring opini media untuk memilih pemimpin berdasarkan kepopulerannya saja. “Boleh saja seorang pemimpin itu kaya, bahkan barangkali itu lebih baik agar ia tidak mengharapkan dari jabatannya,” ujar Doktor jebolan Universitas Kairo ini.

Daud menegaskan, rakyat tidak boleh apatis memilih pemimpin karena kepemimpinan adalah urusan yang sangat besar bagi umat dan bangsa. Setidaknya ada kriteria yang harus dimiliki calon pemimpin. Seperti apa kriteria itu? Berikut wawancara wartawan Majalah Gontor, Ahmad Muhajir, dengan pria yang pernah berdakwah melalui jalur politik di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Baca lanjut

Berita Pondok

Ma'haduna


Manasik Haji.
Pelatihan Manasik Haji untuk siswa baru Pondok Gontor.Baca

JMQ
JMQ, Jamiatul Qurro adalah suatu wadah santri untuk mengembangkan bakat bidang Qori'.Baca

Kepramukaan
Pramuka di Pondok Gontor memiliki segudang prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.Baca

.


Fathul Kutub
Bedah buku klalsikal dan salaf bagi siswa Pondok Gontor.Baca

Berita lain

Waktu
Waktu ibarat pedang
Betapa pentingnya waktu bagi hidup kita...
Baca
Facebook
Aplikasi Silaturahim di dunia maya
Bagaimana caranya agar sesuai syariah?...
Baca
imageKesehatan
Lebah, apakah Anda tahu manfaat lebah?
Dibawah ini dibahas beberapa manfaat lebah...
Baca
imageSedekah
Senyuman adalah sedekah.
Dengan senyuman kita sudah dapat bersedekah ke orang lain...
Baca

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

Mahfudzat


Jakarta (6/4) Dalam kondisi global yang tidak menentu, mau tidak mau, Indonesia memang harus mengandalkan konsumsi dalam negeri untuk menggenjot pertumbuhan. Alasannya, kinerja ekspor tidak bisa diandalkan akibat permintaan global yang sedang turun. Dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta jiwa, serta bertambahnya kelas menengah yang mencapai 7 juta jiwa per tahun,  tidak sulit bagi Indonesia untuk menggenjot konsumsi domestiknya. Lantas bagaimanakah peran Indonesia dalam memanfaatkan peluang tersebut? Bagaimanakah pula peran lembaga keuangan syariah (LKS) dalam memposisikan diri di tengah kondisi keuangan global yang tidak menentu? Realitas inilah yang menjadi kajian dari para jurnalis yang tergabung dalam Jurnalis Ekonomi Syariah (JES) dalam diskusi bertema: ”Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global” yang diselenggarakan di Hotel Sofyan, Jakarta.

Jika dilihat pada tahun lalu, investasi Indonesia masih cukup kuat karena Indonesia merupakan negara tujuan investasi keempat di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan India. Dari semua lembaga, baik nasional maupun internasional, tidak ada satu pun yang memproyeksi pertumbuhan Indonesia di bawah 6%. Untuk itu sangat penting pertumbuhan ekonomi tersebut untuk terus terjaga dengan cara menggerakkan sektor  riil yang ada di masyakat.  Salah satu strateginya adalah pengembangan ekonomi syariah di Indonesia menjadi sebuah pilar dalam kebijakan ekonomi nasional bahkan format ekonomi berkelanjutan di masa yang akan datang.

Untuk mengembangkan ekonomi syariah di Tanah Air—bukan  hanya membicarakan pada pengembangan keuangan syariah, tetapi pengembangan sektor riil syariah seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), industri halal dan pariwisata syariah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Maka dari itu di tengah ketidakpastian global ini integrasi lembaga keuangan syariah dan sektor riil syariah harus menjadi rumusan bersama oleh para pemangku kebijakan dalam mengembangkan ekonomi syariah dan tidak berjalan sendiri-sendiri seperti yang ada selama ini.

Untuk mendorong gagasan tersebut,  pada diskusi ekonomi syariah—kali ini JES menghadirkan para narasumber sebagai berikut; regulator dari Otoritas Jasa Keuangan  oleh Edy Setiadi, Taufik Machus dari Asosiasi Bank Syariah Indonesia, praktisi lembaga keuangan  ada Dino Indiano sebagai Direktur Utama  BNI Syariah, Ronny A. Iskandar  Direktur Utama PT Asuransi Takaful Keluarga. Dari sektor riil syariah ada Sofyan Riyanto  Direktur Utama Hotel, sedangkan dari lembaga zakat ada Sigit Iko Sugondo Direktur Al-Azhar Peduli Ummat, serta dari akademisi ada Jadi Suriadi mewakili Universitas Islam Azzahra. Sementara pakar enterpreneurship Islam Syahrial Yusuf dari LP3I dan SyahrialCenter. Harapannya, diskusi ini ada kesimpulan bersama dalam memajukan ekonomi syariah di Indonesia.

Apalagi peluang pengembangan sektor riil di Indonesia sangat terbuka seperti pariwisata syariah yang menjadi komitmen pemerintah untuk terus dikembangkan, pengembangan kewirausahaan terus yang  didengungkan lewat Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) dan program-program filantropy kewirausahaan yang aktif dilakukan oleh lembaga zakat. Untuk mengintegrasikan peran LKS dan sektor riil syariah maka manajemen kinerja berbasis syariah menjadi syarat yang mutlak sehingga nilai-nilai maqosid syariah dalam berbisnis terus terjaga dengan baik.

Memang diakui, krisis keuangan global masih dirasakan negara-negara di belahan dunia, bahkan dampaknya juga dirasakan dalam neraca ekspor dan impor Indonesia. Tapi melihat peluang sektor riil di Indonesia sangat luas ditambah dengan jumlah demografi yang terus meningkat merupakan market tersendiri dibandingkan dengan negara-negara lain. Peluang inilah yang menjadi rasa optimisme di tengah ketidakpastian global dan sekaligus bisa dikembangkan oleh para pelaku ekonomi syariah di Indonesia.

Jurnalis Ekonomi Syariah

Jurnalis ekonomi syariah (JES) berdiri pada tanggal 6 November 2010 di Jambu Luwuk, Bogor, Jawa Barat. Organisasi ini berdiri sebagai rasa antusias para Jurnalis dari berbagai media cetak, TV, Radio dan Online yang ingin memajukan dan mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Selain itu, hadirnya JES sebagai mitra strategis lembaga bisnis  syariah dalam mempromosikan produk-produknya dan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat dengan berbagai program-program.

Highlight

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1603
mod_vvisit_counterKemarin2998
mod_vvisit_counterMinggu ini1603
mod_vvisit_counterMinggu lalu26981
mod_vvisit_counterBulan ini58983
mod_vvisit_counterBulan lalu83981
mod_vvisit_counterSemua1287401

We have: 14 guests online
IP:: 54.81.80.46
 , 
Hari ini: Apr 19, 2014

Photo Slideshow

LOGO








k

s

 
ba  bc